Sekapur Sirih
Assalammua’laikum
Wr. Wb
Dengan memanjatkan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita
semua sehingga kita diberi kemampuan dan kesempatan dalam upaya melestarikan Seni
Bela Diri Tradisional Pencak Silat Rejang Empat Petulai.
Dalam kesempatan yang baik
ini kami atas nama keluarga besar Seni Bela Diri Tradisional Pencak Silat
Rejang Empat Petulai dengan segala keterbatasan yang ada, mencoba
memperkenalkan dan mengangkat kembali adat istiadat serta kebudayaan khususnya
seni bela diri yang hidup di masyarakat Rejang Lebong.
Untuk melestarikan adat
istiadat dalam arti sesungguhnya yaitu “ Beiek Niyoa Pinang
Gemlung Sadei Temtung Gais Pigei ”
yang berarti hidup kerukunan dalam
masyarakat seiya sekata bak dusun dilingkari parit dibawah kelapa dan pinang
beradat berlembaga.
Dalam upaya memperkenalkan
Seni Bela Diri Tradisional Pencak Silat Rejang Empat Petulai, antara lain
memberikan informasi tentang potensi yang ada dalam kabupaten Rejang Lebong guna menumbuh kembangkan serta melestarikannya
kepada mesyarakat luas melalui tulisan yang sederhana ini.
Dengan menyadari keterbatasan
yang ada baik memampuan maupun pengetahuan yang ada pada kami, tulisan ini jauh dari sempurna, maka saran
dan koreksi dari semua pihak kami harapkan dengan senang hati.
Curup, 3 Juni 1991
Guru Besar Seni Bela Diri
Tradisionil
Pencak Silat Rejang Empat
Petulai
(
ALIRUDIN TAHAR )
Sejarah
Rejang Pat Petulai
Sejak zaman nenek moyang kita
dahulu di Kabupaten Rejang Lebong telah terdapat suku-suku yang mendiami
lereng-lereng gunung, dataran-dataran rendah dan disepanjang sungai yang besar
ataupun di danau-danau. Sebelum bernama Rejang Empat Petulai suku-suku rejang ada
empat ( 4 ) antara lain :
1.
Rejang
Empat Temenggung
2. Rejang Empat Serumpun
3. Rejang Empat Sedaro
4. Rejang Empat Peteng’ak
Keempat suku Rejang ini
dinamakan penduduk asli Rejang, akhlak serta budi pekerti mereka tidaklah sama,
maka sebelum kami uraikan panjang lebar cerita rakyat Rejang ini, banyak
terdapat kata-kata Rejang asli.
1.
Rejang Empat Peteng’ak
Mereka
membuat tempat kediaman disekitar dataran tinggi, adat sejati mereka seperti
kata-kata Rejang dibawah ini :
“
Apie Kayo Jijei Rajo Apie Miskin Jijei Budak ”
“
Meediak Teko Metang Tikae Mengolot Samo Cerito ”
2.
Rejang Empat Sedaro
Mereka
senang sekali di dataran yang luas ( rendah ), adat sejati mereka adalah
bekerja bersama-sama seperti kata-kata Rejang dibawah ini :
“
Deke’Mbuk Depangen Doidup Domatie Deke’lah Deke’Lalak ”
“
Tapi Tekalo Suko Te’Loboa –Loboa Tengen Si Janjing Teluyup-Luyup ”
3.
Rejang Empat Serumpun
Mereka
senang sekali berdiam disepanjang sungai-sungai atau dekat air yang besar
ataupun danau-danau, katanya mudah untuk mencari rezeki tersebut dalam
kata-kata Rejang dibawah ini :
“
Beka’ang Pacak
Mesoakan Senang
Belek
Mbuk Mie
Nak Ujung Kakuk
Mie Panes Lapen Pelang’Aei
Sayang Didik Tengen Kepuek Mako Bageak ”
4.
Rejang Empat Temenggung
Mereka
senang sekali berdiam diri disekitar lereng-lereng gunung atau bukit bukit, diujung
pematang mereka membuat tembok-tembok dari tanah berkandang aur atau bambu,
membangun rumah sangat kokoh dan mampu bekerja keras atau berat. Mereka
sangatlah berani masuk hutan rimba belantara, sebagaimana tersebut dalam
kata-kata Rejang dibawah ini :
“
Be Bjanjei Be Simuker
Be Btaek Be Simicot “
Maka mereka kita ambil
kesimpulannya dengan secara singkat, pada suku-suku Rejang yang disebutkan tadi
kesemuanya mempunyai “ Adat Sejati ”. Masing-masing mereka belum bisa bersatu
padu pada waktu itu apalagi di tanah air Indonesia atau disebut didalam
negara mereka-mereka yang diuraikan tadi sepanjang masa dan zaman, maka
seketika itu datanglah empat ( 4 ) orang Putra Biku yang disebut BIKEU.
Keempat Bikeu ini datang dari
tanah Kerajaan Majapahit yang berasal dari Kepulauan Jawa. Adapun nama-nama
dari keempat Biku tadi dalam kata Rejang ialah :
1.
Bikeu Bermano
2. Bikeu Bembo
3. Bikeu Bejengo
4. Bikeu
Sepanjang Jiwo
Sewaktu beliau datang ke Sumatra ini, beliau berpencar-pencar. Tiga ( 3 ) orang
mendarat di Palembang,
satu ( 1 ) orang mendarat di Belanda atau Gumai Bengkulu Selatan. Yang mendarat
di Gumai inilah yang bernama Bikeu
Bermano, dan tiga orang Biku yang mendarat di Palembang tersebut meneruskan perjalanannya
ke Jambi.
Adapun perjalanan satu orang
Biku yang disebut Bikeu Bermano ini menuju Pantai Panjang Bengkulu dan
meneruskan perjalanan di Pinggir Laut Sebelah Pesisir, yang disebut Bengkulu
Utara dan Beliau terus melanjutkan perjalanannya menuju ke Bukit Barisan serta
Lebong Simpang, dan langsung menuju Dusun Tras Mambang di Lebong.
Lama-kelamaan beliau berdiam
atau menetap disana, kemudian beliau meneruskan perjalanannya untuk mencari
saudara-saudaranya yang tiga orang tersebut. Dalam hati Biku Bermano berkata “ Dimanakah aku dapat bertemu dengan ketiga
saudara-saudaraku itu ?” lalu Biku
Bermano melanjutkan perjalanannya dari dusun ke dusun dan bertemu dengan
suku-suku Rejang yang disebut suku asli Rejang atau penduduk asli.
Melihat orang yang baru
datang yaitu Bikeu Bermano mereka
sangat terheran-heran melihat orang asing tersebut. Suku-suku yang merasa
terheran dan tercengang tersebut antara lain :
1.
Rejang
Empat Temenggung
2. Rejang Empat Serumpun
3. Rejang Empat Sedaro
4. Rejang Empat Peteng’ak
Kesemuanya merasa kagum
melihat kesopanan, wibawa dan budi pekerti yang ada pada diri Bikeu Bermano, akan tetapi mereka
semuanya belum mengetahui apa yang mereka maksudkan bahwa Bikeu Bermano tadi masih tetap mencari ketiga saudara-saudaranya
sewaktu mereka berpisah dulu. Kemudian beliau berjalan naik gunung turun
gunung, masuk hutan keluar hutan setiap hari sesuai dengan kata-kata Rejang
dibawah ini :
“ Poa Telituk Lalang Jijei Tebaris Tebo Medek Tebojoa Metang Aei Musei
“
Maka Bikeu Bermano tadi merasa letih dan lelah mencari
ketiga saudara-saudaranya sehingga beliau merasa putus asa, maka lama-kelamaan
beliau berpikir, coba-coba aku menggunakan pesan orangtuaku sewaktu aku
berangkat ke Sumatera ini. Adapun pesan orangtuanya yaitu “ Dimana asalku
kesitulah aku kembali “, seketika itu beliau teringat semulanya datang ke
Sumatera ini yang pertama kali menginjakkan kaki adalah di Palembang,
kemungkinan mereka masuk didaerah Jambi, lalu beliau meneruskan perjalanannya
menuju Bukit Tambunan Tulang di Tebing, sewaktu beliau hampir dekat ke Bukit
Tambunan Tulang maka timbullah perasaan semangat serta muka beliau berseri-seri
ingin pulang ke Kediri. Disanalah aku bertemu dengan saudara-saudaraku yang aku
cari, pikir beliau.
Kisah Perjalanan Empat Bikeu
Setelah
Bikeu Bermano bertemu dengan ketiga
saudara-saudaranya, bertanyalah ketiga orang saudaranya, “ Kakakku Bikeu Bermano bagaimanakah
pengalaman-pengalamanmu selama kakak
dalam perjalanan ?”, Bikeu menjawab banyak sekali penemuan-penemuanku. Aku
pernah bertemu dengan suku-suku bangsa Rejang atau penduduk asli di Sumatera
ini. Kalau aku ceritakan sangat aneh sekali tingkah lakunya suku-suku asli
bangsa Rejang ini.
Namun
ketiga saudara-saudaranya mesih saja mendesak menanyakan tentang
pengalaman-pangalaman kakaknya tersebut, maka Bikeu Bermano menjawab masalah penemuan itu tidak perlu aku bicara
lagi, yang penting sekarang bagaimana kita akan memperkembangkan
harapan-harapan yang kita maksudkan bersama. Maka ketiga saudara-saudara Bikeu Bermano menjawab dan bersepakat,
kakak yang tertua sajalah yang merintis.
Akhirnya
Bikeu Bermano mengambil
kebijaksanaan untuk merintis cita-cita mereka berempat. Berangkatlah mereka
bersama-sama kedaerah Lebong untuk mencari pergaulan dengan suku-suku Rejang
asli. Sesampainya di tanah Rejang, keempat Bikeu ini dengan sifat yang ramah
tamah, budi pekerti yang luhur serta tidak bersifat sombang sedikit pun,
keempat Bikeu ini tidak mengalami kesukaran untuk berkenalan dengan suku-suku
Rejang asli ini.
Setelah
berkenalan dengan keempat Bikeu ini, suku-suku Rejang merasa terharu terhadap
para Bikeu ini. Mereka saling bantu membantu, tukar menukar pikiran. Maka dari
hal itu timbul hasil-hasil dalam kegiatan bersama. Keempat Bikeu inipun pandai
berbahasa Rejang serta situasi dan kondisi dari suku-suku Rejang tersebut sudah
diketahui dan dialami oleh keempat Bikeu ini.
Kemudian
Bikeu kembali ke Dusun Tras Mambang, lama sekali beliau tinggal disana.
Pergaulan dengan penduduk dusun Tras Mambang sangatlah sopan, lebih-lebih
beliau mengetahui perangai serta sifat-sifat penduduk dusun itu, baik pria
maupun wanitanya. Apa saja yang direncanakan oleh penduduk lebih cepat beliau
untuk melaksanakannya. Maka timbullah perasaan sayang dan hormat penduduk
kepada para Bikeu. Pada saat itu muncullah lamaran dari masyarakat dusun itu
supaya beliau dapat menetap terus untuk selama-lamanya di Dusun Tras Mambang.
Semakin
lama semakin bertambah luhurlah budi pekerti beliau. Pada saat itulah muncul
lamaran dari masyarakat Dusun Tras Mambang supaya beliau dijodohkan dengan
Putri keturunan dari Rajo Tuan Rajo
Jongor, yang menjadi Raja di Dusun tersebut.
Dengan
adanya lamaran sang Raja tadi , beliau tidak dapat menolak dan tidak bisa
ditunda lagi. Maka rencana yang sudah dibuat langsung diselenggarakan. Seluruh
penduduk menyiapkan bahan-bahan serta makanan yang diperlukan untuk perayaan lamaran
tersebut. Semua penduduk asli yang berdiam di Dusun itu masing-masing mereka
mendapat undangan untuk berkumpul di rumah Tuan
Raja Jongor, untuk mengikuti acara jamuan serta pernikahan antara Bikeu Bermano dengan putri raja. Pada
waktu ijab kabul
kedua mempelai disebut nama masing-masing yaitu yang laki bernama Bikeu Bermano, yang putri bernama Putri Senggang dengan nama lengkap Putri Unak Pitu Binti Tuan Rajo Jongor.
Maka ahli agama pada waktu itu yang disebut orang tokoh alim
ulama yang menjadi keramat Lebong Sipang ialah :
1.
Tuanku Malim Sado
Layeak
2.
Tuanku Imam Janggut
Panjang
Setelah
selesai pernikahan kedua pasangan tersebut sesuai dengan pepatah :
“ Seiya Sekata
Sehidup Semati “
“ Kelembah Sama
Menurun Kegunung Sama Mendaki “
“ Berat Sama Dipikul
Ringan Sama Dijinjing “
Atas
perintah Tuan Rajo Jongor, Biku Bermano dijadikan pemimpin Dusun Tras Mambang. Dengan berat hati Biku Bermano tidak atau belum
menyanggupi permintaan itu dikarenakan beliau orang peneliti. Dalam hatinya
berkata “ Kalau aku menjadi Raja mungkin masyarakat dusun ini masih ada yang
ragu-ragu terhadap kepemimpinanku “. Mendengar ucapan Biku Bermano tadi maka Tuan Raja Jongor tidak meneruskan niatnya
tersebut. Oleh karena Raja Jongor
ini dalam menjalankan tugasnya selalu ragu-ragu, maka terdapatlah kekeliruan
dan kesalahan. Akhirnya penduduk daerah Tras Mambang ini ketinggalan
kegiatan-kegiatan apa saja. Maka timbullah dalam pikiran beliau jikalau
pimpinan raja seterusnya begini akan selalu ketinggalan zaman sepanjang masa.
Selanjutnya Bikeu Bermano berkata kepada istrinya, marilah kita bersama-sama
mencari haluan serta cita-cita rumah tangga kita. Dari kesepakatan mereka
berdua pergilah kedua pasangan ini menghadap Raja Tuan Rajo Jongor untuk minta
izin kepada Ayahandanya. Maka Raja termenung mendengar kata-kata permohonan
dari Anandanya yang bermaksud demikian. Tak terhingga sedihnya hati Raja Tuan Jongor. Kemudian Raja memberi
izin kepada anaknya itu sesuai dengan kata Serambeak Padiak Jang
“
Bilei Sedang Kinang Arei
Sedang Kinagn Arei Panjang
Sedang Burung Klik Riang Mengekik
Tiuang Riang Bedudu
Ponoi Sedang Bedadulan
Sedang Lubuk Berbayang Hijau
Ritau Sedang Berbayang Kuning
Sedang T ekinang Bilei Pu’weng
“.
Maka Bikeu Bermano dengan istrinya beriring-iringan turun dari rumah
Ayahandanya. Seketika mereka turun itulah penduduk telah mengambil berkumpul di
halaman rumah Tuan Rajo Jongor.
Mereka merasa sangat berat hati untuk ditinggalkan oleh kedua orang tersebut.
Mereka berkata :
“
Rasa Burung Guguran Sayap Rasa Perahu
Pata Pedayung “
Setelah
mendengar kata-kata itu, Bikeu Bermano
dan istrinya berjalan meninggalkan halaman rumah Ayahandanya dengan kata-kata
Rejang :
“
Asei Kemedong Monok Mbik Ton Asei
Temingga Bioa Masuk Biduk “
Mereka terus berjalan kedaerah
Lebong Selatan hingga menelusuri sungai Ketahun, lama kelamaan keluar dari
sungai Ketahun sampai kedaerah pinggiran danau Ketahun. Mereka berda berhenti
disana dan mengingat pesan dari Ayahandanya, jikalau ananda memilih tanah tempat
kediaman, pilihlah yang disebut dengan kata-kata Rejang :
“
Penoak Te’kadiaek Puluo Boloak Li’ing
Te’bilang Puluo Pe’ing
Datiae Te’kadiaek Puluo Poa Padang Te’bilang
Puluo Lalang
Nakdi’ba Te’mabia Balei-Balei Semi’rak
Pacang-Pacang
Penan Bele’lak Bepa’dang Pisang Beta’jak
Beta’nem Tebeu
Pelan Talang Dibenie
“
Tinggallah Bikeu Bermano sekeluarga disana, disebut juga dengan kata-kata
Rejang dibawah ini :
“ Taniak Te’kadiaek
Luas Pelabei Te’kadiaek Di Lapang “
Kemudian Bikeu Bermano bercerita bersama keluarganya untuk bercocok tanam,
memelihara ayam serta mencari ikan. Tak ketinggalan juga istrinya turut
membantu. Dengan tidak terasa mereka sudah mempunyai keturunan serta anak cucu.
Kemudian Bikeu ingin mencapai satu lagi cita-citanya untuk mengajak serta
memimpin segala penduduk Rejang yang ada dimana saja, seperti juga yang telah
diuraikan diatas, yaitu :
1.
Rejang
Empat Peteng’ak
2. Rejang Empat Sedaro
3. Rejang Empat Serumpun
4. Rejang Empat Temenggung
Berangkatlah Bikeu Bermano
untuk menemui para pemimpin-pemimpin penduduk itu tak lupa dibawanyalah seekor Ayam Burgo jantan yang badannya merah,
kakinya hijau, ekornya panjang. Kegunaan ayam itu adalah untuk mengetahui
dusun-dusun atau pondok-pondok, setiap kali ayam yang dibawa Bikeu Bermano berkokok, maka dibalaslah
oleh ayam yang terpelihara oleh penduduk.
Dengan
adanya kokok ayam tersebut, maka bikeu tidak mengalami kesulitan untuk mencari
tempat kediaman penduduk. Bikeu Bermano sama sekali tidak mengalami kesulitan
untuk berkenalan dan akrab dengan penduduk asli tersebut. Berkatalah Bikeu Bermano, saudara-saudaraku
sekalian siapakah yang berani diantara kalian untuk menghadang jikalau musuh
datang menyerang ?
Menjawablah
seorang yang gagah berani, dia adalah dari suku
Rejang Empat Temenggung yang Rajanya
adalah Raden Temenggung Singo Gunung.
Ia berkata jangan coba-coba musuh menyerang kita, bikeu menjawab dengan jalan
apakah kita menghalanginya. Kemudian ia menjawab tentu kita akan menghadangnya
dengan Ilmu Silat Rejang kita. Bikeu bertanya lagi kepada suku Rejang yang
lain. Seperti suku Rejang Empat Serumpun
yang saat itu Rajanya adalah Rajo
Keteko Samo Duko. Juga dengan suku Rejang yang lain, suku Rejang Empat Sedaro yang Rajanya adalah Tuanku Siak Rajo Lebong. Demikian pula dengan suku Rejang Empat Peteng’ak yang Rajanya adalah Kerbau Nyebrang Balai Sipang.
Bikeu
langsung berkata, mendengar jawaban kalian sungguh-sungguh semangatku sangat
besar sekali. Tetapi aku mohon kepada kalian supaya berkumpul di tempat
kediamanku, karena aku ingin sekali melihat rupa bagaimanakah orang bersilat
itu, karena aku belum pernah melihatnya. Keempat Raja tersebut menyanggupi dan
keempat Raja ini lalu berkumpul di halaman kediaman Bikeu. Tak ketinggalan juga
orang lain serta anak cucu Bikeu Bermano
pun ikut belajar peraga silat Rejang asli dengan syarat-syarat yang telah siap
sedia.
Pertama
kali muncullah Raden Temenggung Singo
Gunung, beliau bersilat tegak kaki sebelah, telunjuk menunjuk ke langit,
berderak muka merah matanya berkedip-kedip serta menggigit gigi dan kumis
panjang ilip gemilip sambil menangkap.
Kedua
muncullah Rajo Keteko Samo Duko,
dengan bersilat mengadakan tendangan sambil melompat tak lupa menggilip badan
sebelah serta membentuk kaki mendorong setapak mundur ke belakang sedepo maju
ke muko.
Ketiga
muncullah Tuanku Siak Rajo Lebong,
dengan bersilat sambil menangkis serangan ditepuknya tanah tiga ( 3 ) kali
terbarislah api seperti tebing, tegak api sepert tungku sebesar bumi tegaring
langit.
Keempat
muncullah Kerbau Nyebrang Balai Simpang,
dengan bersilat sambil memekik meraung-raung tangan mengguris tanah alit tumit
ilat belakang sambil menangkap mendayung gunting terbang.
Setelah
Bikeu melihat kemampuan serta kekuatan keempat Raja tersebut sekarang giliran Bikeu Bermano untuk tampil dengan menadahkan
kedua belah tangan dengan konsentrai penuh kepada yang kuasa serta mengeluarkan
ilmu batinnya. Melihat kehebatan Bikeu, berlututlah keempat Raja tersebut
didepan Bikeu. Maka seketika itu keempat Raja serta pengikut-pengikutnya ikut
serta untuk minta diajarkan kepada Bikeu. Maka dipimpinlah oleh beliau
sebaik-baiknyadan mereka dihimpun untuk bersatu, tersebut dengan kata-kata
Rejang dibawah ini :
“ Deke’lah Deke’
Lalak
Deke’Mbuk Depang’en
Do’Idup Dema’tie
Deke’pak Dekepa’ak “
Maka semuanya dipimpin oleh Bikeu
sangatlh patuh, tak ketinggalan juga Bikeu memerintahkan rakyat-rakyatnya yang
berada di gunung-gunung, di ujung pematang, di pinggir-pinggir air, di
rimba-rimba dan talang-talang, mereka semuanya patuh dan taat. Tak lupa juga
Bikeu mengajak mereka untuk bergotong-royong tersebut juga dengan kata-kata
Rejang dibawah ini :
“ Aleak Bilei
Mencarei
Mesoakan
Memburou
dan
Menggesek “
Itu juga dijalankan dengan baik dan
tekun serta patuh. Tak ketinggalan juga Bikeu mengajak mereka yang disebutkan
dengan istilah Rejang dibawah ini :
“ Samo’lak Samo
Duko
Samo’Rido Samo Senang “
Semuanya mereka jalankan dengan baik
serta petuh dan taat. Setelah mereka patuhi semua yang dibuat serta yang
ditentukan oleh Bikeu, inilah yang dinamakan :
“
Empat Patuh Menjadi Satu atau Empat
Petulai “
Pencak silatnya sudah ada, suku-suku
Rejangnya pun sudah patuh, mereka inilah yang dinamakan :
“
Seni Bela Diri Tradisionil Pencak Silat
Rejang Empat Petulai “
Disusun
oleh :
Guru Besar Seni Bela Diri
Tradisionil
Pencak Silat Rejang Empat
Petulai
(
ALIRUDIN TAHAR )