Rabu, 03 Februari 2016

Sejarah Seni Bela Diri Tradisional Pencak Silat Rejang Empat Petulai.



Sekapur Sirih


Assalammua’laikum Wr. Wb
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita diberi kemampuan dan kesempatan dalam upaya melestarikan Seni Bela Diri Tradisional Pencak Silat Rejang Empat Petulai.
Dalam kesempatan yang baik ini kami atas nama keluarga besar Seni Bela Diri Tradisional Pencak Silat Rejang Empat Petulai dengan segala keterbatasan yang ada, mencoba memperkenalkan dan mengangkat kembali adat istiadat serta kebudayaan khususnya seni bela diri yang hidup di masyarakat Rejang Lebong.
Untuk melestarikan adat istiadat dalam arti sesungguhnya yaitu “ Beiek Niyoa Pinang Gemlung Sadei Temtung Gais Pigei ” yang berarti hidup  kerukunan dalam masyarakat seiya sekata bak dusun dilingkari parit dibawah kelapa dan pinang beradat berlembaga.
Dalam upaya memperkenalkan Seni Bela Diri Tradisional Pencak Silat Rejang Empat Petulai, antara lain memberikan informasi tentang potensi yang ada dalam kabupaten Rejang  Lebong  guna menumbuh kembangkan serta melestarikannya kepada mesyarakat luas melalui tulisan yang sederhana ini.
Dengan menyadari keterbatasan yang ada baik memampuan maupun pengetahuan yang ada pada kami,  tulisan ini jauh dari sempurna, maka saran dan koreksi dari semua pihak kami harapkan dengan senang hati.
  Curup, 3 Juni 1991
Guru Besar Seni Bela Diri Tradisionil
Pencak Silat Rejang Empat Petulai



   ( ALIRUDIN TAHAR )




Sejarah Rejang Pat Petulai


Sejak zaman nenek moyang kita dahulu di Kabupaten Rejang Lebong telah terdapat suku-suku yang mendiami lereng-lereng gunung, dataran-dataran rendah dan disepanjang sungai yang besar ataupun di danau-danau. Sebelum bernama Rejang Empat Petulai suku-suku rejang ada empat ( 4 ) antara lain :
1.        Rejang Empat Temenggung
2.       Rejang Empat Serumpun
3.       Rejang Empat Sedaro
4.       Rejang Empat Peteng’ak
Keempat suku Rejang ini dinamakan penduduk asli Rejang, akhlak serta budi pekerti mereka tidaklah sama, maka sebelum kami uraikan panjang lebar cerita rakyat Rejang ini, banyak terdapat kata-kata Rejang asli.
1.      Rejang Empat Peteng’ak
Mereka membuat tempat kediaman disekitar dataran tinggi, adat sejati mereka seperti kata-kata Rejang dibawah ini :
“ Apie Kayo Jijei Rajo Apie Miskin Jijei Budak ”
“ Meediak Teko Metang Tikae Mengolot Samo Cerito ”
2.     Rejang Empat Sedaro
Mereka senang sekali di dataran yang luas ( rendah ), adat sejati mereka adalah bekerja bersama-sama seperti kata-kata Rejang dibawah ini :
“ Deke’Mbuk Depangen Doidup Domatie Deke’lah Deke’Lalak ”
“ Tapi Tekalo Suko Te’Loboa –Loboa Tengen Si Janjing Teluyup-Luyup ”
3.     Rejang Empat Serumpun
Mereka senang sekali berdiam disepanjang sungai-sungai atau dekat air yang besar ataupun danau-danau, katanya mudah untuk mencari rezeki tersebut dalam kata-kata Rejang dibawah ini :

“ Beka’ang Pacak
  Mesoakan Senang
  Belek Mbuk Mie
  Nak Ujung Kakuk
  Mie Panes Lapen Pelang’Aei
  Sayang Didik Tengen Kepuek Mako Bageak ”


4.    Rejang Empat Temenggung
Mereka senang sekali berdiam diri disekitar lereng-lereng gunung atau bukit bukit, diujung pematang mereka membuat tembok-tembok dari tanah berkandang aur atau bambu, membangun rumah sangat kokoh dan mampu bekerja keras atau berat. Mereka sangatlah berani masuk hutan rimba belantara, sebagaimana tersebut dalam kata-kata Rejang dibawah ini :
“ Be Bjanjei Be Simuker
  Be Btaek Be Simicot “
Maka mereka kita ambil kesimpulannya dengan secara singkat, pada suku-suku Rejang yang disebutkan tadi kesemuanya mempunyai “ Adat Sejati ”. Masing-masing mereka belum bisa bersatu padu pada waktu itu apalagi di tanah air Indonesia atau disebut didalam negara mereka-mereka yang diuraikan tadi sepanjang masa dan zaman, maka seketika itu datanglah empat ( 4 ) orang Putra Biku yang disebut BIKEU.
Keempat Bikeu ini datang dari tanah Kerajaan Majapahit yang berasal dari Kepulauan Jawa. Adapun nama-nama dari keempat Biku tadi dalam kata Rejang ialah :
1.      Bikeu Bermano
2.     Bikeu Bembo
3.     Bikeu Bejengo
4.    Bikeu Sepanjang Jiwo
Sewaktu beliau datang ke Sumatra ini, beliau berpencar-pencar. Tiga ( 3 ) orang mendarat di Palembang, satu ( 1 ) orang mendarat di Belanda atau Gumai Bengkulu Selatan. Yang mendarat di Gumai inilah yang bernama Bikeu Bermano, dan tiga orang Biku yang mendarat di Palembang tersebut meneruskan perjalanannya ke Jambi.
Adapun perjalanan satu orang Biku yang disebut Bikeu Bermano ini menuju Pantai Panjang Bengkulu dan meneruskan perjalanan di Pinggir Laut Sebelah Pesisir, yang disebut Bengkulu Utara dan Beliau terus melanjutkan perjalanannya menuju ke Bukit Barisan serta Lebong Simpang, dan langsung menuju Dusun Tras Mambang di Lebong.
Lama-kelamaan beliau berdiam atau menetap disana, kemudian beliau meneruskan perjalanannya untuk mencari saudara-saudaranya yang tiga orang tersebut. Dalam hati Biku Bermano berkata “ Dimanakah aku dapat bertemu dengan ketiga saudara-saudaraku itu ?” lalu Biku Bermano melanjutkan perjalanannya dari dusun ke dusun dan bertemu dengan suku-suku Rejang yang disebut suku asli Rejang atau penduduk asli.
Melihat orang yang baru datang yaitu Bikeu Bermano mereka sangat terheran-heran melihat orang asing tersebut. Suku-suku yang merasa terheran dan tercengang tersebut antara lain :
1.        Rejang Empat Temenggung
2.       Rejang Empat Serumpun
3.       Rejang Empat Sedaro
4.       Rejang Empat Peteng’ak
Kesemuanya merasa kagum melihat kesopanan, wibawa dan budi pekerti yang ada pada diri Bikeu Bermano, akan tetapi mereka semuanya belum mengetahui apa yang mereka maksudkan bahwa Bikeu Bermano tadi masih tetap mencari ketiga saudara-saudaranya sewaktu mereka berpisah dulu. Kemudian beliau berjalan naik gunung turun gunung, masuk hutan keluar hutan setiap hari sesuai dengan kata-kata Rejang dibawah ini :
Poa Telituk Lalang Jijei Tebaris Tebo Medek Tebojoa Metang Aei Musei
            Maka Bikeu Bermano tadi merasa letih dan lelah mencari ketiga saudara-saudaranya sehingga beliau merasa putus asa, maka lama-kelamaan beliau berpikir, coba-coba aku menggunakan pesan orangtuaku sewaktu aku berangkat ke Sumatera ini. Adapun pesan orangtuanya yaitu “ Dimana asalku kesitulah aku kembali “, seketika itu beliau teringat semulanya datang ke Sumatera ini yang pertama kali menginjakkan kaki adalah di Palembang, kemungkinan mereka masuk didaerah Jambi, lalu beliau meneruskan perjalanannya menuju Bukit Tambunan Tulang di Tebing, sewaktu beliau hampir dekat ke Bukit Tambunan Tulang maka timbullah perasaan semangat serta muka beliau berseri-seri ingin pulang ke Kediri. Disanalah aku bertemu dengan saudara-saudaraku yang aku cari, pikir beliau.







Kisah Perjalanan Empat Bikeu


Setelah Bikeu Bermano bertemu dengan ketiga saudara-saudaranya, bertanyalah ketiga orang saudaranya, “ Kakakku Bikeu Bermano bagaimanakah pengalaman-pengalamanmu  selama kakak dalam perjalanan ?”, Bikeu menjawab banyak sekali penemuan-penemuanku. Aku pernah bertemu dengan suku-suku bangsa Rejang atau penduduk asli di Sumatera ini. Kalau aku ceritakan sangat aneh sekali tingkah lakunya suku-suku asli bangsa Rejang ini.
Namun ketiga saudara-saudaranya mesih saja mendesak menanyakan tentang pengalaman-pangalaman kakaknya tersebut, maka Bikeu Bermano menjawab masalah penemuan itu tidak perlu aku bicara lagi, yang penting sekarang bagaimana kita akan memperkembangkan harapan-harapan yang kita maksudkan bersama. Maka ketiga saudara-saudara Bikeu Bermano menjawab dan bersepakat, kakak yang tertua sajalah yang merintis.
Akhirnya Bikeu Bermano mengambil kebijaksanaan untuk merintis cita-cita mereka berempat. Berangkatlah mereka bersama-sama kedaerah Lebong untuk mencari pergaulan dengan suku-suku Rejang asli. Sesampainya di tanah Rejang, keempat Bikeu ini dengan sifat yang ramah tamah, budi pekerti yang luhur serta tidak bersifat sombang sedikit pun, keempat Bikeu ini tidak mengalami kesukaran untuk berkenalan dengan suku-suku Rejang asli ini.
Setelah berkenalan dengan keempat Bikeu ini, suku-suku Rejang merasa terharu terhadap para Bikeu ini. Mereka saling bantu membantu, tukar menukar pikiran. Maka dari hal itu timbul hasil-hasil dalam kegiatan bersama. Keempat Bikeu inipun pandai berbahasa Rejang serta situasi dan kondisi dari suku-suku Rejang tersebut sudah diketahui dan dialami oleh keempat Bikeu ini.
Kemudian Bikeu kembali ke Dusun Tras Mambang, lama sekali beliau tinggal disana. Pergaulan dengan penduduk dusun Tras Mambang sangatlah sopan, lebih-lebih beliau mengetahui perangai serta sifat-sifat penduduk dusun itu, baik pria maupun wanitanya. Apa saja yang direncanakan oleh penduduk lebih cepat beliau untuk melaksanakannya. Maka timbullah perasaan sayang dan hormat penduduk kepada para Bikeu. Pada saat itu muncullah lamaran dari masyarakat dusun itu supaya beliau dapat menetap terus untuk selama-lamanya di Dusun Tras Mambang.
Semakin lama semakin bertambah luhurlah budi pekerti beliau. Pada saat itulah muncul lamaran dari masyarakat Dusun Tras Mambang supaya beliau dijodohkan dengan Putri keturunan dari Rajo Tuan Rajo Jongor, yang menjadi Raja di Dusun tersebut.
Dengan adanya lamaran sang Raja tadi , beliau tidak dapat menolak dan tidak bisa ditunda lagi. Maka rencana yang sudah dibuat langsung diselenggarakan. Seluruh penduduk menyiapkan bahan-bahan serta makanan yang diperlukan untuk perayaan lamaran tersebut. Semua penduduk asli yang berdiam di Dusun itu masing-masing mereka mendapat undangan untuk berkumpul di rumah Tuan Raja Jongor, untuk mengikuti acara jamuan serta pernikahan antara Bikeu Bermano dengan putri raja. Pada waktu ijab kabul kedua mempelai disebut nama masing-masing yaitu yang laki bernama   Bikeu Bermano, yang putri bernama Putri Senggang dengan nama lengkap Putri Unak Pitu Binti Tuan Rajo Jongor. Maka ahli agama pada waktu itu yang disebut orang tokoh     alim ulama yang menjadi keramat Lebong Sipang ialah :
1.        Tuanku Malim Sado Layeak
2.       Tuanku Imam Janggut Panjang
Setelah selesai pernikahan kedua pasangan tersebut sesuai dengan pepatah :
“ Seiya Sekata Sehidup Semati “
“ Kelembah Sama Menurun Kegunung Sama Mendaki “
“ Berat Sama Dipikul Ringan Sama Dijinjing “
Atas perintah Tuan Rajo Jongor, Biku Bermano dijadikan pemimpin Dusun              Tras Mambang. Dengan berat hati Biku Bermano tidak atau belum menyanggupi permintaan itu dikarenakan beliau orang peneliti. Dalam hatinya berkata “ Kalau aku menjadi Raja mungkin masyarakat dusun ini masih ada yang ragu-ragu terhadap kepemimpinanku “. Mendengar ucapan Biku Bermano tadi maka Tuan Raja Jongor tidak meneruskan niatnya tersebut. Oleh karena Raja Jongor ini dalam menjalankan tugasnya selalu ragu-ragu, maka terdapatlah kekeliruan dan kesalahan. Akhirnya penduduk daerah Tras Mambang ini ketinggalan kegiatan-kegiatan apa saja. Maka timbullah dalam pikiran beliau jikalau pimpinan raja seterusnya begini akan selalu ketinggalan zaman sepanjang masa.
            Selanjutnya Bikeu Bermano berkata kepada istrinya, marilah kita bersama-sama mencari haluan serta cita-cita rumah tangga kita. Dari kesepakatan mereka berdua pergilah kedua pasangan ini menghadap Raja Tuan Rajo Jongor untuk minta izin kepada Ayahandanya. Maka Raja termenung mendengar kata-kata permohonan dari Anandanya yang bermaksud demikian. Tak terhingga sedihnya hati Raja Tuan Jongor. Kemudian Raja memberi izin kepada anaknya itu sesuai dengan kata Serambeak Padiak Jang

Bilei Sedang Kinang Arei
   Sedang Kinagn Arei Panjang
   Sedang Burung Klik Riang Mengekik
   Tiuang Riang Bedudu
   Ponoi Sedang Bedadulan
   Sedang Lubuk Berbayang Hijau
   Ritau Sedang Berbayang Kuning
   Sedang T ekinang Bilei Pu’weng “.

            Maka Bikeu Bermano dengan istrinya beriring-iringan turun dari rumah Ayahandanya. Seketika mereka turun itulah penduduk telah mengambil berkumpul di halaman rumah Tuan Rajo Jongor. Mereka merasa sangat berat hati untuk ditinggalkan oleh kedua orang tersebut. Mereka berkata :
Rasa Burung Guguran Sayap Rasa Perahu Pata Pedayung
Setelah mendengar kata-kata itu, Bikeu Bermano dan istrinya berjalan meninggalkan halaman rumah Ayahandanya dengan kata-kata Rejang :
Asei Kemedong Monok Mbik Ton Asei Temingga Bioa Masuk Biduk
            Mereka terus berjalan kedaerah Lebong Selatan hingga menelusuri sungai Ketahun, lama kelamaan keluar dari sungai Ketahun sampai kedaerah pinggiran danau Ketahun. Mereka berda berhenti disana dan mengingat pesan dari Ayahandanya, jikalau ananda memilih tanah tempat kediaman, pilihlah yang disebut dengan kata-kata Rejang :
Penoak Te’kadiaek Puluo Boloak Li’ing Te’bilang Puluo Pe’ing
   Datiae Te’kadiaek Puluo Poa Padang Te’bilang Puluo Lalang
   Nakdi’ba Te’mabia Balei-Balei Semi’rak Pacang-Pacang
   Penan Bele’lak Bepa’dang Pisang Beta’jak Beta’nem Tebeu
   Pelan Talang Dibenie
            Tinggallah Bikeu Bermano sekeluarga disana, disebut juga dengan kata-kata Rejang dibawah ini :
“ Taniak Te’kadiaek Luas Pelabei Te’kadiaek Di Lapang “
            Kemudian Bikeu Bermano bercerita bersama keluarganya untuk bercocok tanam, memelihara ayam serta mencari ikan. Tak ketinggalan juga istrinya turut membantu. Dengan tidak terasa mereka sudah mempunyai keturunan serta anak cucu. Kemudian Bikeu ingin mencapai satu lagi cita-citanya untuk mengajak serta memimpin segala penduduk Rejang yang ada dimana saja, seperti juga yang telah diuraikan diatas, yaitu :
1.        Rejang Empat Peteng’ak
2.       Rejang Empat Sedaro
3.       Rejang Empat Serumpun
4.       Rejang Empat Temenggung
Berangkatlah Bikeu Bermano untuk menemui para pemimpin-pemimpin penduduk itu tak lupa dibawanyalah seekor Ayam Burgo jantan yang badannya merah, kakinya hijau, ekornya panjang. Kegunaan ayam itu adalah untuk mengetahui dusun-dusun atau pondok-pondok, setiap kali ayam yang dibawa Bikeu Bermano berkokok, maka dibalaslah oleh ayam yang terpelihara oleh penduduk.
Dengan adanya kokok ayam tersebut, maka bikeu tidak mengalami kesulitan untuk mencari tempat kediaman penduduk. Bikeu Bermano sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk berkenalan dan akrab dengan penduduk asli tersebut. Berkatalah Bikeu Bermano, saudara-saudaraku sekalian siapakah yang berani diantara kalian untuk menghadang jikalau musuh datang menyerang ?
Menjawablah seorang yang gagah berani, dia adalah dari suku Rejang Empat Temenggung yang Rajanya adalah Raden Temenggung Singo Gunung. Ia berkata jangan coba-coba musuh menyerang kita, bikeu menjawab dengan jalan apakah kita menghalanginya. Kemudian ia menjawab tentu kita akan menghadangnya dengan Ilmu Silat Rejang kita. Bikeu bertanya lagi kepada suku Rejang yang lain. Seperti suku Rejang Empat Serumpun yang saat itu Rajanya adalah Rajo Keteko Samo Duko. Juga dengan suku Rejang yang lain, suku Rejang Empat Sedaro yang Rajanya adalah Tuanku Siak Rajo Lebong. Demikian pula dengan suku Rejang Empat Peteng’ak yang Rajanya adalah Kerbau Nyebrang Balai Sipang.
Bikeu langsung berkata, mendengar jawaban kalian sungguh-sungguh semangatku sangat besar sekali. Tetapi aku mohon kepada kalian supaya berkumpul di tempat kediamanku, karena aku ingin sekali melihat rupa bagaimanakah orang bersilat itu, karena aku belum pernah melihatnya. Keempat Raja tersebut menyanggupi dan keempat Raja ini lalu berkumpul di halaman kediaman Bikeu. Tak ketinggalan juga orang lain serta anak cucu Bikeu Bermano pun ikut belajar peraga silat Rejang asli dengan syarat-syarat yang telah siap sedia.
Pertama kali muncullah Raden Temenggung Singo Gunung, beliau bersilat tegak kaki sebelah, telunjuk menunjuk ke langit, berderak muka merah matanya berkedip-kedip serta menggigit gigi dan kumis panjang ilip gemilip sambil menangkap.
Kedua muncullah Rajo Keteko Samo Duko, dengan bersilat mengadakan tendangan sambil melompat tak lupa menggilip badan sebelah serta membentuk kaki mendorong setapak mundur ke belakang sedepo maju ke muko.
Ketiga muncullah Tuanku Siak Rajo Lebong, dengan bersilat sambil menangkis serangan ditepuknya tanah tiga ( 3 ) kali terbarislah api seperti tebing, tegak api sepert tungku sebesar bumi tegaring langit.
Keempat muncullah Kerbau Nyebrang Balai Simpang, dengan bersilat sambil memekik meraung-raung tangan mengguris tanah alit tumit ilat belakang sambil menangkap mendayung gunting terbang.
Setelah Bikeu melihat kemampuan serta kekuatan keempat Raja tersebut sekarang giliran Bikeu Bermano untuk tampil dengan menadahkan kedua belah tangan dengan konsentrai penuh kepada yang kuasa serta mengeluarkan ilmu batinnya. Melihat kehebatan Bikeu, berlututlah keempat Raja tersebut didepan Bikeu. Maka seketika itu keempat Raja serta pengikut-pengikutnya ikut serta untuk minta diajarkan kepada Bikeu. Maka dipimpinlah oleh beliau sebaik-baiknyadan mereka dihimpun untuk bersatu, tersebut dengan kata-kata Rejang dibawah ini :

“ Deke’lah Deke’ Lalak
  Deke’Mbuk Depang’en
  Do’Idup Dema’tie
  Deke’pak Dekepa’ak “

            Maka semuanya dipimpin oleh Bikeu sangatlh patuh, tak ketinggalan juga Bikeu memerintahkan rakyat-rakyatnya yang berada di gunung-gunung, di ujung pematang, di pinggir-pinggir air, di rimba-rimba dan talang-talang, mereka semuanya patuh dan taat. Tak lupa juga Bikeu mengajak mereka untuk bergotong-royong tersebut juga dengan kata-kata Rejang dibawah ini :

“ Aleak Bilei
   Mencarei
   Mesoakan
   Memburou dan
   Menggesek

            Itu juga dijalankan dengan baik dan tekun serta patuh. Tak ketinggalan juga Bikeu mengajak mereka yang disebutkan dengan istilah Rejang dibawah ini :
“ Samo’lak Samo Duko
  Samo’Rido Samo Senang “
            Semuanya mereka jalankan dengan baik serta petuh dan taat. Setelah mereka patuhi semua yang dibuat serta yang ditentukan oleh Bikeu, inilah yang dinamakan :
Empat Patuh Menjadi Satu atau Empat Petulai
            Pencak silatnya sudah ada, suku-suku Rejangnya pun sudah patuh, mereka inilah yang dinamakan :
Seni Bela Diri Tradisionil Pencak Silat Rejang Empat Petulai





Disusun oleh :
Guru Besar Seni Bela Diri Tradisionil
Pencak Silat Rejang Empat Petulai



   ( ALIRUDIN TAHAR )